KUKAR, LINGKARKALTIM: Harga daging ayam di sejumlah pasar di Tenggarong mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat melonjak pada awal perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Penurunan ini terjadi seiring meredanya permintaan masyarakat pasca puncak kebutuhan pada hari pertama dan kedua Lebaran.
Salah satu pedagang ayam di kawasan Jalan Danau Lipan, Rahman mengungkapkan bahwa harga ayam sempat mencapai titik tertinggi pada awal Lebaran.
“Hari pertama dan kedua Lebaran itu sekitar Rp70 ribu per kilogram, itu yang paling tinggi sejauh ini,” ujar dia, Kamis (26/3/2026).
Namun, memasuki hari-hari berikutnya, harga mulai berangsur turun. Saat ini, harga ayam potong berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram, meskipun tetap dipengaruhi oleh harga dari pemasok di tingkat kandang.
“Sekarang sudah turun, sekitar Rp45 ribu per kilogram. Biasanya memang tergantung dari kandangnya juga,” jelas Rahman.
Pedagang yang telah berjualan selama kurang lebih satu tahun ini menjelaskan bahwa pola permintaan selama Ramadan hingga Lebaran memiliki perbedaan cukup signifikan.
Lonjakan pembelian justru terjadi menjelang hari raya, sementara saat Lebaran berlangsung, permintaan mulai menurun.
“Kalau puasa, apalagi menjelang Lebaran, biasanya lebih ramai. Tapi pas hari Lebaran malah mulai menurun,” tuturnya.
Meski harga turun secara perlahan, volume penjualan pada hari ini masih tergolong tinggi.
Dari sekitar 120 ekor ayam atau lebih dari 200 kilogram yang dibawa, hampir seluruhnya terjual.
“Sekarang tinggal sekitar dua kiloan saja,” ungkap dia.
Ia memperkirakan tren penurunan harga akan terus berlanjut seiring berakhirnya momen Lebaran dan aktivitas masyarakat yang kembali normal.
“Ke depan kemungkinan akan terus turun seperti biasa setelah Lebaran selesai,” ujar Rahman.
Sementara itu, di Pasar Mangkurawang, harga daging ayam juga menunjukkan pola serupa.
Salah satu pedagang, Rahmat, menyebut harga saat ini berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
“Pas Lebaran bisa sampai Rp50 ribu, sekarang antara Rp45 sampai Rp48 ribu,” ungkap dia.
Meski demikian, ia menilai harga tersebut belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal.
“Kalau hari-hari biasa itu Rp35 sampai Rp37 ribu, sekarang belum normal,” kata Rahmat.
Dia menilai bahwa faktor ketersediaan stok sebagai penentu utama fluktuasi harga di pasaran.
Menurutnya, pasokan yang terbatas membuat harga sulit turun secara signifikan.
“Kalau stoknya banyak ya turun, kalau barang sedikit pasti naik. Ini saja kami berebut karena barangnya kurang,” jelasnya. (ASR)










