KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran 2026 tetap dilaksanakan secara tatap muka (luring).
Kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas wacana nasional terkait penerapan sistem sekolah berbasis daring.
Kepala Disdikbud Kukar, Heriansyah, menegaskan bahwa pembelajaran daring bukan tanpa kelebihan, terutama dari sisi efisiensi.
Namun, kondisi di daerah belum sepenuhnya siap untuk menerapkan sistem tersebut secara optimal.
“Sekolah online itu tidak salah dalam rangka efisiensi. Tapi kalau melihat kondisi di Kukar, kami menilai belum bisa diterapkan secara maksimal,” ujar dia, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi bahan evaluasi penting dalam menentukan kebijakan pendidikan ke depan.
Selama periode tersebut, pembelajaran daring kurang efektif dibandingkan sistem tatap muka, khususnya dalam hal pemahaman materi oleh siswa.
Menurutnya, keterbatasan interaksi langsung antara guru dan siswa menjadi salah satu faktor utama menurunnya efektivitas pembelajaran daring.
Selain itu, aspek kedisiplinan siswa juga cenderung melemah saat proses belajar dilakukan dari rumah.
“Kalau tatap muka, anak-anak lebih terkontrol. Dari sisi disiplin, cara menerima pelajaran, itu berbeda dengan online,” kata Heriansyah.
Selain itu, lanjut dia, tantangan lain juga datang dari peran orang tua. Tidak semua orang tua memiliki waktu maupun kemampuan untuk mendampingi anak selama proses pembelajaran di rumah, sehingga berdampak pada kualitas belajar siswa.
Di sisi lain, faktor infrastruktur menjadi kendala signifikan. Ketersediaan akses internet serta perangkat pendukung seperti telepon seluler belum merata di seluruh wilayah Kukar.
“Akses internet dan perangkat seperti telepon seluler itu juga menjadi pertimbangan. Tidak semua siswa punya fasilitas yang memadai,” jelasnya.
Dia menyebut bahwa kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang lebih siap dari sisi infrastruktur maupun ekosistem pendidikan digital.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Disdikbud Kukar memilih untuk tetap mengutamakan pembelajaran tatap muka demi menjaga kualitas pendidikan di daerah.
“Untuk Kukar, kami berpikir lebih baik tetap tatap muka. Ini untuk menjaga kualitas pendidikan anak-anak kita,” pungkas dia. (ASR)










