KUKAR, LINGKARKALTIM: Momentum Idulfitri membawa berkah tersendiri bagi para pedagang sovenir di kawasan Museum Mulawarman.
Meski secara umum daya beli masyarakat disebut menurun dibanding tahun sebelumnya, peningkatan kunjungan selama libur Lebaran tetap mendongkrak pendapatan harian para pedagang.
Salah satu penjual sovenir, Muhammad Rusli mengaku telah berjualan di area belakang museum selama kurang lebih 20 tahun. Ia membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.30 WITA.
“Selama lebaran ini alhamdulillah ada peningkatan pendapatan dibanding hari biasa. Kalau hari biasa sekitar Rp200 ribuan, tapi saat Lebaran bisa mencapai Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per hari,” ucap dia, Selasa (24/3/2026).
Ia menilai, peningkatan ini didorong oleh tingginya kunjungan wisatawan yang datang ke Museum Mulawarman selama libur Idulfitri.
“Namanya pedagang tidak menentu, kadang ramai, kadang sepi. Tapi memang selama Lebaran ini terasa ada peningkatan,” ujar Rusli.
Dia menjelaskan, beragam produk khas Kaltim ditawarkan di lapaknya, mulai dari gelang, cincin, baju motif daerah, tas manik, sarung, hingga kain tenun khas Kutai.
Dari sekian banyak barang, baju motif Kaltim menjadi produk yang paling diminati pembeli, terutama untuk anak-anak.
“Yang paling laku itu baju motif Kaltim, khususnya untuk anak-anak yang satu set dengan celananya,” ungkapnya.
Untuk harga, Rusli menyebut sebagian besar barang yang dijual masih terjangkau.
Baju motif dijual sekitar Rp35 ribu, daster motif Rp50 ribu, gelang berkisar Rp20 ribu hingga Rp35 ribu, serta cincin mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Selain itu, tersedia juga songkok atau kopiah dengan motif khas daerah.
Sementara untuk produk kerajinan bernilai lebih tinggi, seperti kain dan tas, harga yang ditawarkan juga relatif bersaing. Kain ulap doyo ukuran empat meter dijual sekitar Rp200 ribu, kain songket Rp100 ribu, tas manik Rp100 ribu, dan tas manik kecil sekitar Rp50 ribu.
Ia menegaskan bahwa harga di lapaknya cenderung lebih murah dibandingkan tempat lain di luar Musium Mulawarman.
“Kalau di tempat lain bisa sampai Rp75 ribu, di sini sekitar Rp50 ribu (daster),” kata dia.
Meski pendapatan meningkat selama Lebaran, ia mengungkapkan bahwa secara keseluruhan kondisi tahun ini masih belum sebaik tahun lalu.
Dia menilai ada penurunan daya beli masyarakat yang turut memengaruhi omzet pedagang.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang agak menurun. Tahun lalu lebih ramai. Mungkin karena pengurangan anggaran, terutama dari pembeli seperti ASN yang biasanya belanja untuk keluarga,” terang Rusli.
Kondisi tersebut menjadi catatan tersendiri bagi para pedagang yang menggantungkan penghasilan dari sektor wisata.
Dia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam hal promosi kawasan penjualan sovenir di sekitar museum.
“Harapan kami semoga pemerintah bisa membantu promosi, supaya orang tahu bahwa di belakang museum ada penjual sovenir dengan harga yang murah dan terjangkau,” harapnya.
Rusli juga berharap jumlah pengunjung ke Museum Mulawarman terus meningkat ke depannya, sehingga penjualan para pedagang bisa kembali tumbuh dan lebih stabil.
“Semoga ke depan pengunjung semakin banyak dan penjualan bisa meningkat lagi,” tutup dia. (ASR)










